Sesungguhnya Islam itu mempunyai kaidah-kaidah (sistem) pendidikan yang istimewa yang berdiri tegak di atas dasar-dasar kejiwaan yang kokoh pada setiap jiwa para pemeluknya. Sistem ini adalah sistem pendidikan yang kekal, dimana tidak akan sempurna upaya pembentukan kepribadian yang islamis kecuali dengan merealisasikan konsep tersebut dengan menanamkan akar-akar tersebut dalam jiwa setiap individu maupun masyarakat, dan dengan membangun masyarakat Islam atas dasar saling tolong menolong yang menguntungkan dimana diantaranya terdapat ikatan yang kokoh, etika yang tinggi, serta rasa kasih sayang.
Ukhuwah Islamiyah bukan hanya konsep spiritual atau teori dalam buku-buku dakwah. Ia adalah kekuatan peradaban yang dahulu mampu menyatukan umat Islam dalam satu barisan. Namun jika kita melihat realitas dunia Islam saat ini, khususnya di kawasan Timur Tengah, kita menyaksikan bagaimana ukhuwah sering kali melemah akibat konflik, perpecahan, dan kepentingan politik.
Padahal Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi umat Islam saat ini. Banyak konflik yang terjadi di dunia Islam bukan hanya karena faktor eksternal, tetapi juga karena rapuhnya ukhuwah di antara sesama muslim.
Beberapa konflik di kawasan Timur Tengah seperti yang terjadi di Palestina, Suriah, Yaman, hingga Irak menunjukkan bagaimana perpecahan internal dapat memperlemah kekuatan umat.
Berikut 5 Cara Menguatkan Ukhuwah Islamiyah, khususnya dalam menyikapi dinamika global seperti sekarang:
Menguatkan Keimanan di Tengah Krisis Identitas Umat
Banyak konflik di dunia Islam saat ini bukan sekadar konflik wilayah, tetapi juga krisis identitas dan kepentingan politik. Ketika iman tidak lagi menjadi fondasi utama persaudaraan, maka identitas lain seperti suku, mazhab, atau kepentingan politik lebih mudah memecah belah umat.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa ketika iman menjadi fondasi utama, umat Islam mampu bersatu seperti yang terjadi pada persaudaraan Muhajirin dan Anshar di masa Rasulullah.
Jika iman menjadi dasar hubungan, maka seorang muslim akan melihat muslim lain sebagai saudara seiman, bukan sebagai kelompok yang harus dimusuhi. Dengan ikatan ini, mereka saling mendahulukan kepentingan saudaranya dibandingkan kepentingan pribadinya. Karena ikatan ini datangnya dari Allah, ikatan ini sangat kokoh.
"Dan (Dialah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal : 63).
Menjaga Kepercayaan di Era Informasi dan Propaganda
Salah satu penyebab perpecahan di dunia Islam saat ini adalah informasi yang tidak benar, propaganda, dan fitnah yang menyebar sangat cepat. Di era media sosial dan perang informasi, isu-isu sektarian sering diprovokasi sehingga menimbulkan kecurigaan antar kelompok umat Islam.
Karena itu konsep tabayyun menjadi sangat penting. Tanpa tabayyun, umat akan mudah diadu domba oleh kepentingan politik global. Kemudian hal lain adalah saling menutup aib sesama saudara.
"Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat." (HR. At-Tarmidzi).
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar umat Islam selalu menjaga amanah dan kepercayaan. Jika kepercayaan hilang, maka ukhuwah pun akan runtuh.
"Tidak ada iman bagi yang tidak ada amanat padanya (menjaga amanat) dan tidak ada agama bagi yang tidak ada janjinya baginya (memenuhi janji)." (H.R. Imam Ahmad).
Menghidupkan Musyawarah dalam Menyelesaikan Konflik
Banyak konflik di dunia Islam saat ini terjadi karena kurangnya dialog dan musyawarah yang jujur.
Musyawarah dalam Islam bukan sekadar prosedur politik, tetapi cara untuk menemukan kebenaran melalui pertukaran pendapat yang bijak.
"Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya." (QS. Al-Imran : 159).
Maka dalam menguatkan Ukhuwah Islamiyah musyawarah menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan ketika mendapati sebuah permasalahan. Hal ini juga yang akan mengurangi sikap otoriter yang cenderung kepada sikap dzalim. Dalam musyawarah akan ditemukan hasil terbaik dari berbagai pendapat dan itu menguji keadilan dan sikap bijak dari pemimpin.
Jika prinsip syura' benar-benar dihidupkan, maka banyak konflik di dunia Islam sebenarnya dapat diselesaikan melalui dialog, bukan melalui peperangan yang berkepanjangan.
Menghargai Perbedaan Mazhab dan Pandangan
Hal selanjutnya yang mesti kita perhatikan bersama adalah menghormati dan menghargai perbedaan atau keberagaman. Allah SWT menciptakan manusia berbeda-beda karena mempunyai tujuan yang mana Dia sendiri yang menjelaskannya di dalam firman-Nya:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13).
Realitas umat Islam menunjukkan adanya keragaman mazhab, pemikiran, dan latar belakang budaya. Namun perbedaan ini sering dijadikan alasan untuk saling menyalahkan.
Padahal Allah menciptakan manusia berbeda agar saling mengenal dan saling belajar. Jika perbedaan tidak dikelola dengan baik, ia dapat berubah menjadi konflik. Hal ini terlihat dalam berbagai ketegangan sektarian di beberapa wilayah Timur Tengah.
Karena itu, umat Islam perlu memahami fiqh ikhtilaf (fikih perbedaan) agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Maka dari itu, fiqh dakwah menjadi sangat penting pada bab ini.
Membersihkan Hati dari Penyakit yang Merusak Persatuan
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu, sesudah meneguhkannya, sedangkan kamu sudah menjadikan Allah sebagai saksimu terhadap sumpah-sumpah itu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa-apa yang kamu perbuat." (QS. An-Nahl : 91).
Jadi, untuk menguatkan Ukhuwah Islamiyah, kejujuran itu juga menjadi faktor yang penting. Dan ini sebagaimana telah dijelaskan di bab ‘saling percaya’ mampu menghilangkan sifat munafik.
Beberapa penyebab perpecahan umat adalah penyakit hati, diantaranya seperti: kesombongan kelompok, fanatisme buta, dengki dan permusuhan, serta ambisi kekuasaan.
Penyakit hati inilah yang sering merusak ukhuwah bahkan di kalangan aktivis dakwah sekalipun. Sejarah menunjukkan bahwa ketika hawa nafsu dan ambisi pribadi lebih dominan daripada keikhlasan, maka persatuan umat akan mudah hancur.
Pelajaran Besar bagi Umat Islam saat ini adalah fenomena yang terjadi di Timur Tengah seharusnya menjadi pelajaran penting bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Persatuan umat bukan hanya slogan, tetapi harus dibangun melalui: penguatan iman, kejujuran dan amanah, musyawarah, penghargaan terhadap perbedaan dan pembersihan hati.
Jika ukhuwah Islamiyah benar-benar terjaga, maka umat Islam akan kembali menjadi kekuatan yang besar. Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin, menguatkan ukhuwah di antara kita, dan menjadikan umat ini kembali kuat dengan persatuan dan ketakwaan.

Komentar
Posting Komentar