Langsung ke konten utama

Amalan-Amalan yang Dicintai oleh Allah selama bulan Ramadan

     Bulan Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhiyah, tempat hati dilatih untuk kembali lembut, tempat amal-amal kecil dilipat gandakan nilainya, dan tempat seorang hamba berjalan lebih dekat menuju cinta Allah. Rasulullah SAW bersabda:  "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit." (HR. Bukhari Muslim).      Hadits ini  menjadi pengingat bahwa yang Allah lihat bukan hanya banyaknya amal, tetapi keikhlasan, kesungguhan, dan kesinambungannya. Lalu, amalan apa saja yang paling dicintai Allah di bulan yang mulia ini? Puasa yang Berkualitas, Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ      " Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar ...

Amalan-Amalan yang Dicintai oleh Allah selama bulan Ramadan



    Bulan Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhiyah, tempat hati dilatih untuk kembali lembut, tempat amal-amal kecil dilipat gandakan nilainya, dan tempat seorang hamba berjalan lebih dekat menuju cinta Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit." (HR. Bukhari Muslim).
    Hadits ini menjadi pengingat bahwa yang Allah lihat bukan hanya banyaknya amal, tetapi keikhlasan, kesungguhan, dan kesinambungannya.
Lalu, amalan apa saja yang paling dicintai Allah di bulan yang mulia ini?

  • Puasa yang Berkualitas, Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).
    Puasa yang dicintai Allah bukan hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi juga memiliki makna dan perenungan yang mendalam, diantaranya: menjaga lisan dari dusta, menjaga hati dari iri dan dengki, serta menjaga mata dari hal yang sia-sia. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dari lapar dan haus yang ia tahan." (HR. Bukhari).
    Jadikan puasa kita bernilai disisi Allah dan bermanfaat untuk diri kita sendiri. Sejatinya Ramadan melatih diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas. Puasa seperti inilah yang menghidupkan jiwa, memberi makna kehidupan, dan menjaga kesehatan lahir batin.

  • Shalat Tepat Waktu dan Berjama'ah
    Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah, beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." (HR. Bukhari Muslim). Ramadan adalah momentum memperbaiki hubungan dengan shalat, diantaranya: suka telat jadi tepat waktu, tadinya sendiri jadi berjama'ah, dan yang tadinya cepat jadi lebih khusyuk. Karena pada shalatlah seorang hamba benar-benar pulang kepada Rabb-nya,  dan karena pada shalatlah seorang hamba sedang berkomunikasi langsung dengan Rabb-nya.
    Shalat tepat waktu mengajarkan kedisiplinan, komitmen, dan keseimbangan hidup. Karena waktu yang berjalan setiap detiknya sangat berharga, dan sangat merugi jika disia-siakan. Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah SAW bersabda: "Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian." (HR. Bukhari Muslim). Khususnya bagi laki-laki wajib hukumnya untuk shalat di masjid secara berjama'ah kecuali ada udzur yang menghalanginya.
    Di bulan Ramadan, manfaatkan momentum kemudahan beramal shalih untuk membentuk karakter diri yang senang untuk ke masjid dan shalat pada waktunya. Jadikan shalat sebagai prioritas utama dalam aktivitas harian, sehingga kita dapat mengelola aktivitas lain dengan baik. Karena sejatinya, waktu shalat adalah cara Allah untuk mendidik kita untuk lebih menghormati waktu.

  • Tilawah Al-Qur'an: Cahaya yang Menghidupkan Hati
    Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Pada malam 17 Ramadan, Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW. Bulan yang tepat untuk memperbanyak tilawah, tadabbur, dan menghafal Al-Qur'an. Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
"Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an..." (QS. Al-Baqarah: 185). Rasulullah SAW terbiasa bertadarus Al-Qur'an bersama malaikat Jibril setiap tahun di bulan Ramadan, selain itu juga tadarus menjadi tradisi para sahabat Nabi SAW. Keberkahan dan kemuliaan dari interaksi dengan Al-Qur'an juga menggapai para pengajar dan orang-orang yang belajar Al-Qur'an. "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya," (HR. Bukhari).
    Tilawah di bulan Ramadan bukan sekadar menggugurkan target khatam, tetapi juga tentang: membiarkan ayat-ayat Allah menenangkan kegelisahan, membasuh hati yang lelah, menghidupkan dengan kalam-Nya.
    Setiap huruf yang dibaca dilipatgandakan, bahkan jika kesulitan atau banyak kesalahan, Allah beri lebih banyak pahala dan keberkahan jika ada kesungguhan untuk belajar. Memperbaiki bacaan sesuai tajwid dan tartil. Menyentuh jiwa untuk dapat ditadabburi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf: Jalan Menuju Kelembutan Hati
    Ibnu Abbas ra. berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan." (HR. Bukhari). Di bulan Ramadan, umat Islam diwajibkan berzakat fitrah. Zakat juga menjadi kewajiban bagi orang-orang yang mencapai nisab dan haul. Infaq adalah harta yang dikeluarkan untuk membantu sesama. Sedangkan sedekah cakupannya lebih luas dan umum, materi ataupun non materi. Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.." (QS. Al-Baqarah: 261).
    Ayat di atas menenangkan jiwa: tidak ada sedekah yang hilang. Semuanya tumbuh, berkembang, dan kembali kepada kita dalam bentuk keberkahan yang sering kali tak terduga. Sedekah yang dicintai Allah ialah yang bersih dari riya dan harapan pujian. "Dan apa saja yang kamu infaqkan, maka Allah akan menggantinya." (QS. Saba': 39).
    Dengan ZISWAF inipun, melatih kita untuk melihat dengan hati, bukan sekadar dengan mata. Bahwa memberi menjadikan jiwa mulia, menumbuhkan empati, dan melembutkan hati yang keras oleh hiruk-pikuk dunia. Sedekah di bulan Ramadan bukan tentang besar kecilnya nilai, tetapi tentang: keikhlasan memberi, kepekaan terhadap sesama, dan keyakinan bahwa Allah akan menggantinya. Sedekah adalah bukti bahwa dunia tidak lagi menguasai hati.

  • Qiyamul Lail: Dialog Cinta di Sepertiga Malam
    Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari Muslim). Qiyamul lail bukan sekadar berdiri dan membaca ayat-ayat yang panjang. Ia adalah pertemuan paling sunyi antara hamba dengan Rabb-nya—saat dunia terdiam dan langit begitu dekat. Allah SWT berfirman:
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ۝ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
    "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun." (QS. Adz-Dzariyat: 17-18). Di saat manusia terlelap, seorang hamba berdiri dalam sunyi: melafalkan ayat dengan air mata, memohon ampun dengan penuh harap, dan mencurahkan segala luka hanya kepada Allah. Dan pada saat itulah, langit dipenuhi rahmat. "Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni." (HR. Bukhari Muslim). Di antara karunia terbesar yang Allah hadirkan di bulan Ramadan adalah shalat tarawih, qiyamul lail yang hanya ada pada bulan yang penuh kemuliaan ini. Ia bukan sekadar rangkaian rakaat setelah Isya, tetapi perjalanan cinta seorang hamba menuju ampunan Rabb-nya.
  • Berbakti pada Orang tua dan Memperbaiki Akhlak
    Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang akhlak. Allah SWT berfirman: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23).
    Senyum, membantu dan berkata lembut, beberapa diantara kemudahan amal yang dicintai Allah dalam berbakti kepada orang tua. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi). Puasa mengajarkan kita untuk lebih menjaga lisan, menyabarkan hati, dan melembutkan sikap, khususnya kepada orang tua kita. Ridha Allah terletak pada ridha orang tua. Rasulullah SAW bersabda: "Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. Timidzi).
    Tujuan puasa adalah takwa, dan salah satu tanda takwa adalah akhlak mulia. Ramadan mengajarkan kita bahwa jalan menuju cinta Allah tidak selalu melalui amalan yang besar dan terlihat, tetapi sering kali melalui kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus. Karena akhlak mulia adalah bukti bahwa Ramadan tidak hanya singgah di perut yang lapar, tetapi juga menetap di hati yang hidup.

  • 10 Hari Terakhir Ramadan dan Lailatul Qadr: Malam-Malam Terbaik
    Ada fase dalam Ramadan yang tidak sekadar istimewa, tetapi menjadi puncak perjalanan ruhiyah seorang mukmin. Ia adalah sepuluh malam terakhir—malam-malam yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari umur panjang tanpa makna: Lailatul Qadr. Pada hari-hari inilah Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah. Aisyah ra. berkata: "Apabila masuk sepuluh malam terakhir, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah." (HR. Bukhari Muslim).
    Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. "Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 3-5). Malam yang dipenuhi ketenangan, keberkahan dan ampunan. Sepuluh malam terakhir adalah undangan cinta. Bukan semua orang mampu bangun di dalamnya. Bukan semua hati tergerak untuk mencarinya. Jika Allah masih memberi kita kesempatan bertemu dengannya, maka itu tanda bahwa Allah masih menginginkan kita kembali. Jangan biarkan malam-malam itu berlalu seperti malam biasa. Karena bisa jadi, itulah malam yang akan mengubah seluruh hidup kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan yang Membutuhkan Pilihan; Menjaga Cinta atau Mengobati Hati

"Hidup adalah soal pilihan. Manusia dituntut untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Seperti dua mata koin, kita akan mendapatkan jawaban ketika sebuah pilihan telah digulirkan. Setiap pilihan pasti memiliki dampak dan risiko. Semakin besar dampak yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang diterima. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap pilihan hidup, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apapun yang terjadi." "Setelah menjalani lika-liku kehidupan, manis-pahitnya perjalanan, kini aku mulai mengerti bahwa diri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan jalan. Bukan hanya sekedar keinginan atau hawa nafsu yang dituruti, namun juga kebutuhan dalam diri berupa keimanan dan kesehatan yang harus diprioritaskan atau diutamakan. Kini aku mulai mengerti bagaimana melakukannya karena Allah telah menunjukkan jalan terbaiknya padaku." Mari sejenak kita melakukan refleksi, mengingat dan membayangkan betapa ...

PROGRAM RAMADAN MULIA ISTIQAMAH BERSAMA

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, bulan yang sangat istimewa dan sangat agung, dimana karunia serta ampunan Allah dilimpahkan tanpa batas. Pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Amal kebaikan terasa sangat mudah dilakukan, program yang menawarkan kebermanfaatan terbentang luas agar saling meninggikan derajat bersama-sama. Selain itu, doa-doa diijabah dengan mudah, sehingga banyak umat Islam saling berlomba untuk kembali kepada Allah. Ramadan adalah madrasah iman yang Allah hadirkan setiap tahun untuk membentuk pribadi umat Islam menjadi bertaqwa. Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa." (QS. Al-Baqarah: 183) Namun realitanya, semangat Ramadan ...

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...