Langsung ke konten utama

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...

SEKILAS TENTANG SPI PUSAT DAN PEMBUKAAN KELAS KURSUS BARU SECARA DARING


JAKARTA-Sekolah Pemikiran Islam (SPI) kembali membuka kelas untuk angkatan ke-11 wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek). Acara yang akan berlangsung setiap pekan selama dua semester ini dimulai pada Rabu (3/2/21) malam hari, secara daring melalui aplikasi zoom. Acara ini dihadiri oleh Founder SPI, Akmal Syafril, dan beberapa pengurus SPI Jakarta serta para peserta yang telah lolos seleksi.

Pembukaan acara berlangsung dengan khidmat karena diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh saudara Nafis. Acara dilanjutkan dengan pembacaan tata tertib oleh Kepala SPI Jakarta dan diskusi tanya jawab dengan peserta serta pemaparan materi oleh Kepala SPI Pusat, Akmal.

“Perkenalkan, saya Chandra Yudhangkara, kepala SPI Jakarta. Pada pertemuan perdana ini kita akan membahas seputar tata tertib dan seputar SPI. Mari kita buka perkuliahan kita dengan lafadz basmallah ‘bismillahirrahmaanirrahiim’,” ujar pria yang bekerja di industri kopi sebagai supply and demand dalam pembukaannya.

Dalam diskusi tanya jawab, Founder SPI, Akmal, menjelaskan tentang tafsiran beberapa point tata tertib, salah satunya terdapat pada point ke 4 tentang ‘tidak diperkenankan untuk merekam atau menscreenshot presentasi materi yang disampaikan oleh narasumber, dan tidak diperkenankan menyebarluaskan materi perkuliahan kepada pihak lain atas nama SPI.’ Hal tersebut menurutnya sebagai bentuk antisipasi agar para peserta tidak salah paham ketika menyebarluaskan informasi pembelajaran dari SPI kepada pihak luar dan sebagai bentuk adab dalam menuntut ilmu.

Pemilik akun instagram @malakmalakmal ini juga menjelaskan sejarah SPI. “SPI lahir pada tahun 2014 dengan nama SPI ITJ (Sekolah Pemikiran Islam #IndonesiaTanpaJIL). Pada tahun 2015, SPI berpisah secara struktural dengan ITJ dan membuka cabang di Jakarta dan Bandung. SPI didirikan sebagai respon intelektual menghadapi pemikiran yang mendera umat Islam masa kini. SPI memiliki visi sebagai lembaga pendidikan yang berkontribusi membangkitkan kembali tradisi ilmu untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam. Selanjutnya SPI juga memiliki misi diantaranya adalah memberikan kajian-kajian strategis yang terencana dan terstruktur dengan baik untuk menjawab kebutuhan umat sesuai dengan zamannya, menyelenggarakan pendidikan untuk generasi muda muslim yang diyakini dapat mempelopori perubahan positif dengan cepat, dan berperan aktif untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah dengan mengembangkan adab yang baik diantara para aktivis dakwah Islam,” papar Akmal secara panjang lebar.

Dalam acara yang bertemakan pendahuluan ini juga dijelaskan tentang kurikulum dan metode yang digunakan oleh SPI.

“Kurikulum perkuliahan saat ini ada 20 materi yang dibagi ke dalam 2 semester. “Kuliah diselenggarakan pekanan dengan waktu dua jam. Sarana; proyektor, ruang kelas. Kemudian dua tugas menulis untuk setiap materi yaitu reportase dan karya tulis ilmiah, reportase yang dianggap bagus akan dikirimkan ke situs-situs berita Islam, diskusi sambil menginap sebagai penutup semester pertama, lanjut setelah itu rihlah yang berkegiatan di luar kota sebagai penutup. Terakhir ada SG yang diperuntukkan umum,” lanjut penulis buku Islam Liberal 101 ini lagi.

Pada tahun 2021, SPI menyelenggarakan dua kursus singkat di bulan Februari. Pertama SPI Jakarta angkatan ke-11 dan SPI Bandung angkatan ke-7. Hal itu disampaikan oleh Akmal Syafril, Kepala SPI Pusat, dalam wawancara via aplikasi Whatsapp pada Kamis (04/02/21) sore.

“Sepanjang tahun 2020 kami putuskan tidak membuka kelas, kecuali SPI Bandung angkatan ke-6 yang terlanjur dimulai sebelum pandemi. Memang idealnya, menurut adab yang benar, belajar itu harus melalui tatap muka. Tetapi karena pandemi belum berakhir, sedangkan kebutuhan umat semakin bertambah, maka kami putuskan untuk membuka kelas di tahun 2021 ini secara daring. Ini tidak ideal, tapi sesuai dengan kemaslahatan,” ujar Akmal.

Meski dilakukan secara daring, hal tersebut tidak menyurutkan antusias masyarakat untuk daftar SPI. Terlihat dari jumlah peserta yang lolos seleksi perkuliahan yang tidak mengalami penurunan.

“Tidak menurun, kurang lebih sama seperti angkatan-angkatan sebelumnya, yaitu 80-an orang,” tambah Akmal dalam wawancara tersebut.

Pada SPI Jakarta angkatan ke-11, terdapat 86 peserta yang lolos seleksi. Latar belakang dari para peserta pun beragam, ada yang seorang ibu rumah tangga, karyawan, mahasiswa, pegawai pemerintahan, ataupun aktivis Islam. Menariknya, ada salah satu komunitas yang bahkan 8 orang anggotanya lolos seleksi pada SPI Jakarta angkatan ke-11 ini. Hal tersebut diungkapkan oleh Annisa Nurul Hidayah, salah satu peserta anggota komunitas Muda Berdakwah, dalam wawancara via aplikasi Whatsapp pada Rabu (03/02/21) malam.

“Menurut saya, Irfan Dzulhijj selaku ketua umum komunitas Muda Berdakwah mengarahkan para anggotanya untuk bisa mengikuti SPI ini dengan tujuan untuk menambah intelektual tentang zaman ini dan bisa memahami permasalahan atau isu-isu yang terjadi. Bahasa gaulnya ‘ya lo harus kritis tentang keadaan saat ini,’ ujar wanita yang berkuliah di STID DI Al-Hikmah Jakarta.

Hal senada juga disampaikan oleh ketua umum komunitas Muda Berdakwah pada kesempatan lain saat ditanya oleh anggotanya perihal tersebut.

“Jawab aja. Memang setiap angkatan Muda Berdakwah selalu mengirim utusan anggotanya untuk ikut SPI. Sebagai partisipasinya dalam mengkader pemikiran anggota MB,” tegas founder @khayran.planner.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...

Perjalanan yang Membutuhkan Pilihan; Menjaga Cinta atau Mengobati Hati

"Hidup adalah soal pilihan. Manusia dituntut untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Seperti dua mata koin, kita akan mendapatkan jawaban ketika sebuah pilihan telah digulirkan. Setiap pilihan pasti memiliki dampak dan risiko. Semakin besar dampak yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang diterima. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap pilihan hidup, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apapun yang terjadi." "Setelah menjalani lika-liku kehidupan, manis-pahitnya perjalanan, kini aku mulai mengerti bahwa diri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan jalan. Bukan hanya sekedar keinginan atau hawa nafsu yang dituruti, namun juga kebutuhan dalam diri berupa keimanan dan kesehatan yang harus diprioritaskan atau diutamakan. Kini aku mulai mengerti bagaimana melakukannya karena Allah telah menunjukkan jalan terbaiknya padaku." Mari sejenak kita melakukan refleksi, mengingat dan membayangkan betapa ...

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...