Langsung ke konten utama

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...

Cuhat atas Kondisi Negeri yang Mengiris Hati



Hari-hari belakangan ini, Indonesia dihebohkan dengan dua berita besar. Pertama, berita seorang Menteri Sosial yang berasal dari PDIP bernama, Juliari Batu Bara yang ditangkap basah oleh KPK karena dugaan kasus korupsi bantuan COVID 19 yang bernilai mencapai Rp. 17 miliar.

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) hartamu itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. An-Nisa: 29).

Kedua, berita tentang wafatnya 6 orang laskar FPI. Diduga, ke 6 orang laskar itu di tembak mati oleh Polisi. Informasi yang berkembang di sosial media, terjadi kesimpangsiuran informasi. Yang jelas, membunuh 6 orang warga yang tidak bersalah, apalagi seorang muslim sangat dilarang. Baik itu secara hukum negara, maupun agama.

"Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar." (QS. Al-Isra: 33).

"Tidak halal menumpahkan darah seorang Muslim yang bersaksi tidak ada sesembahan (yang benar) selain Allah dan bersaksi bahwa aku (Muhammad) adalah Rasulullah, kecuali dengan salah satu dari tiga alasan, nyawa dibalas nyawa (qishash), seorang lelaki beristri yang berzina, dan orang yang memisahkan agama dan meninggalkan jama'ah (murtad)." (HR. Bukhari  Muslim).

"Siapa yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya." (Qs an-Nisaa': 93).

"Siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya." (QS al-Maidah: 32).

Kaget, tercengang, dan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dua kasus besar yang berdekatan seakan membuat diri ini bertanya, 'apakah kasus kematian 6 laskar adalah sebagai upaya menutup kabar dari kasus korupsi?'

Dua kasus besar yang sama-sama biadab bagi para pelakunya. Korupsi dan pembunuhan. Naudzubillah. Apakah dengan dua kasus besar ini menandakan Indonesia sedang baik-baik saja? Padahal, saat ini negara masih berjuang melawan virus COVID 19. Tetapi, ternyata kelakuan Menteri nya saja keterlaluan. Mengambil keuntungan pribadi di atas keprihatinan masyarakat. Menginjak-injak harga diri bangsa, menindas rakyat dengan cara keji. Tetapi, ternyata kelakuan oknum pembunuh sangat diluar nalar akal sehat. Mengincar rombongan Imam Besar Habib Rizieq Syihab di waktu dini hari. Merencanakan pembunuhan terhadap beliau, namun hasilnya mengorbankan 6 nyawa pengawalnya yang mati syuhada. Segala skenario dibuat sedemikian rupa untuk menghilangkan bukti nyata, mengaburkan kebenaran yang ada, dan membenarkan pembunuhan yang terjadi hanya demi membela diri. Naudzubillah.

Apakah negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang serakah? dipimpin oleh orang-orang yang jahat? Dipimpin oleh orang-orang yang tidak mengerti persoalan bangsa ini, tidak paham bagaimana mencari solusi, tidak mengetahui mengapa bangsa ini belum maju. Padahal negeri ini adalah negeri yang makmur, sumber daya alamnya melimpah. Tetapi, negeri ini ternyata sedang dijajah. Tidak ada keadilan yang merata, tidak ada kesejahteraan yang dirasa, dan tidak ada kebebasan yang sejati.

Apakah negeri ini dipimpin oleh sekelompok oligarki? Yang menawarkan kedamaian tetapi nyata nya penuh ancaman, yang menawarkan kesamarataan bagi setiap golongan tetapi hanya golongannya sajalah yang bebas berkuasa, yang ingin menciptakan hubungan yang erat antar sesama, tetapi hanya bertujuan memenuhi nafsu dan hajat penguasa. Dengan menciptakan sistem yang hanya menguntungkannya. Menasbihkan dirinya sebagai penguasa tunggal yang bebas melakukan apa saja yang dia mau. Keluarga atau kelompoknya, adalah orang-orang yang memiliki kekebalan hukum yang mereka ciptakan sendiri.

Oh tidak, aku harap semua itu hanya ada pada negeri seberang nan jauh disana. Bukan di Indonesia yang aku cintai ini, tempat lahir dan tumbuh kembang kami para pemuda/i generasi masa depan bangsa. Tanah air yang aku cintai, yang dipenuhi oleh para ulama, habaib dan orang-orang shaleh di dalamnya. Negeri yang dibangun atas perjuangan para pahlawan muslim, jasa mereka, jiwa, raga, dan harta mereka. Menjadi amal jariyah yang akan senantiasa menerangi kubur mereka, senantiasa mengalir sebagai penambah pahala meski mereka telah tiada.

Mengapa? Mengapa Dzurriyah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam yang mulia sebegitu jahatnya diperlakukan? Seakan beliau lebih berbahaya dari segala ancaman yang ada. Lebih hina daripada seorang koruptor, lebih buruk dari seorang pengedar narkoba, lebih jahat daripada seorang pembunuh. Tidak! Beliau tidaklah seperti itu.

Beliau adalah seorang yang berani lantang menyuarakan kebenaran, memperjuangkan keadilan, mengharapkan kedamaian, serta mempertahankan cita-cita leluhur bangsa. Beliau adalah seorang yang cinta Indonesia, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, dan beliau adalah orang yang betul-betul ingin melihat Indonesia maju. Beliau hanya melawan kedzaliman, melawan kebathilan, melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Ya Allah, kami mohon kepadamu keselamatan bagi Habib Rizieq Syihab, bagi umat Islam, bagi rakyat Indonesia, bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Kami mohon lindungi kami, dari segala macam musuh yang menyerang. Lindungi kami dari perpecahan, dari kekerasan dan peperangan.

Ya Allah jadikanlah negeri kami ini, negeri yang adil, makmul, sejahtera, damai, dan diberkahi oleh-Mu. Ya Allah, hancurkanlah musuh-musuh kami, hinakanlah mereka, dan cerai beraikanlah kekuatan mereka sehingga mereka tidak mengganggu kami lagi Ya Allah.

Ya Allah ampuni segala dosa kami, dan dosa para pemimpin kami. Kuatkanlah ikatan persaudaraan kami dalam naungan rahmat, kasih sayang-Mu ya Allah. Atas segala kehinaan diri kami, ketidakmampuan kami, kelemahan kami, ketidakberdayaan kami, kami memohon petunjuk-Mu ya Allah, memohon hanya kepada-Mu. Perkenankanlah doa kami, terimalah amal kami, Aamiin.

Curhatan hati ini, melegakan. Semoga kondisi negeri ini menjadi lebih baik lagi. Hati, yang telah teriris ini semoga sembuh. Kembali pada sedia kala. Semoga curhatan hati ini, menenangkan dan dapat membangun kepercayaan, memperkuat ikatan persaudaraan, pelecut semangat perjuangan. Untuk Indonesia dan untuk Islam.

Komentar

  1. Ada saatnya pemburu akan diburu.itu hanya persoalan waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga saja, segera terang benderang kebenaran yang sesungguhnya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...

Perjalanan yang Membutuhkan Pilihan; Menjaga Cinta atau Mengobati Hati

"Hidup adalah soal pilihan. Manusia dituntut untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Seperti dua mata koin, kita akan mendapatkan jawaban ketika sebuah pilihan telah digulirkan. Setiap pilihan pasti memiliki dampak dan risiko. Semakin besar dampak yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang diterima. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap pilihan hidup, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apapun yang terjadi." "Setelah menjalani lika-liku kehidupan, manis-pahitnya perjalanan, kini aku mulai mengerti bahwa diri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan jalan. Bukan hanya sekedar keinginan atau hawa nafsu yang dituruti, namun juga kebutuhan dalam diri berupa keimanan dan kesehatan yang harus diprioritaskan atau diutamakan. Kini aku mulai mengerti bagaimana melakukannya karena Allah telah menunjukkan jalan terbaiknya padaku." Mari sejenak kita melakukan refleksi, mengingat dan membayangkan betapa ...

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...