Langsung ke konten utama

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...

52 Perkara Perusak Amal



Assalamualaikum!

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Ta'ala Tuhan Semesta Alam. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam juga kepada para keluarga, sahabat, dan umatnya. Semoga kita mendapat syafa'at dari beliau Salallahu alaihi wasallam. Aamiin

Sungguh, melakukan amal shalih merupakan kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Allah membagikan amalan ini kepada manusia sebagaimana Dia membagikan rezeki. Namun, nikmat di atas nikmat adalah kekalnya pahala dan ganjaran Allah atas amal kebaikan yang dilakukan. Dan merupakan sebuah kerugian dan kekecewaan besar bila amal kebaikan yang dilakukan hilang dan hancur lebur pahalanya.

Sungguh, ada beberapa perkara-perkara yang dapat merusak dan membatalkan pahala amal. Ada di antaranya yang membatalkan amal secara keseluruhan serta menghilangkan kebaikannya. Ada pula yang menghancurkan sebagian amal. Ada perkara yang merupakan perbuatan hati, ada pula yang perbuatan lisan, dan ada pula yang merupakan perbuatan badan.

Sebuah buku yang disusun oleh Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah menjadi pembahasan review buku episode kali ini. Izinkan saya seorang yang fakir ilmu, sedikit saja mengulas tentang buku ini. Buku yang secara cover dan tampilan, sederhana, kecil, dan hanya 114 halaman. Namun, buku ini cukup menampar diri kita perihal perusak-perusak amal. Membuat kita was-was apakah amal kita diterima oleh Allah atau tidak?

Perkara apa sajakah yang dapat merusak amal itu. Anda akan mendapatinya dalam buku mungil ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala keburukan. Wallahul musta’an. Selamat membaca!

1. Perbuatan Hati


Sering kali saya bahas perkara tentang hati. Apa-apa saja yang dapat membersihkannya dan apa saja yang dapat mengotori hati. Selain itu, ternyata perbuatan-perbuatan hati ini dapat merusak amal perbuatan kita. Bahkan ada perkara yang sampai membuat kita haram berada di surga. Setidaknya ada 18 perbuatan hati yang dapat merusak amal. Diantaranya:
  • Syirik
  • Meyakini bolehnya bertahkim dengan hukum selain yang diturunkan Allah
  • Riya
  • Mendustakan takdir
  • Mengaku memiliki pengetahuan tentang perkara ghaib
  • Berputus asa dari rahmat Allah
  • Merasa gembira dengan musibah yang menimpa kaum mukmin
  • Ujub
  • Wahm (merasa dirinya lebih baik dan paham dari yang lain)
  • Bakhil (pelit)
  • Meyakini pernyataan yang bertentangan dengan kebenaran
  • Takabur (sombong)
  •  Hasad
  • Jahil (bodoh)
  • Panjang angan-angan
  • Terlalu cinta dunia
  • Sedikit rasa malu
  • Keras hati

2. Perbuatan Lisan


  • Menghina Allah
  • Menghina Al-Qur’an
  • Menghina Rasul dan sunnahnya
  • Menghina sahabat
  • Meremehkan ulama
  • Mencela orang mukmin karena keislamannya
  • Berdebat dan berbicara tanpa ilmu
  • Takfir serampangan
  • Mengungkit-ungkit pemberian
  • Takhbib
  • Sum’ah
  • Bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni si fulan
  • Menuduh berzina wanita mukminah yang lengah (tidak terlintas olehnya untuk melakukan itu)


3. Perbuatan Tubuh


  • Ghuluw (berlebih-lebihan)
  • Riba
  • Bersekutu dengan kaum kafir dan munafik
  • Membunuh seorang mukmin atau merasa gembira jika ada orang mukmin terbunuh
  • Belajar dan mempraktekkan ilmu sihir
  • Durhaka pada orang tua
  • Memelihara anjing
  • Pecandu khamr
  • Sengaja meninggalkan shalat
  • Menolak membayar zakat
  •  Berbuat bid’ah
  • Imam shalat yang dibenci makmumnya
  • Istri yang nusyudz
  • Merusak kehormatan istri mujahid
  • Dayyuts
  • Mengambil harta haram
  • Hutang
  • Memutus silaturrahim serta menjauhi saudaranya sesama muslim tanpa alasan yang dibenarkan syari’at
  • Bermaksiat kala sendirian
  • Memakan harta anak yatim
  • Lari dari medan perang
Demikian 52 perkara yang dapat merusak amal kita. InsyaAllah pada episode selanjutnya kita akan sedikit mengulas perkara-perkara di atas dengan pemahaman ilmu saya yang sedikit sekali ini dan pengalaman yang saya miliki.

Saya bermohon pada Allah semoga kita dapat dijauhkan dari perkara-perkara di atas. Dari kejahatan jiwa-jiwa kita, lisan kita, serta buruknya amal-amal kita.

Semangat untuk menjaga amal ya !

#30DWC #30DWCJilid43 #Day25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...

Perjalanan yang Membutuhkan Pilihan; Menjaga Cinta atau Mengobati Hati

"Hidup adalah soal pilihan. Manusia dituntut untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Seperti dua mata koin, kita akan mendapatkan jawaban ketika sebuah pilihan telah digulirkan. Setiap pilihan pasti memiliki dampak dan risiko. Semakin besar dampak yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang diterima. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap pilihan hidup, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apapun yang terjadi." "Setelah menjalani lika-liku kehidupan, manis-pahitnya perjalanan, kini aku mulai mengerti bahwa diri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan jalan. Bukan hanya sekedar keinginan atau hawa nafsu yang dituruti, namun juga kebutuhan dalam diri berupa keimanan dan kesehatan yang harus diprioritaskan atau diutamakan. Kini aku mulai mengerti bagaimana melakukannya karena Allah telah menunjukkan jalan terbaiknya padaku." Mari sejenak kita melakukan refleksi, mengingat dan membayangkan betapa ...

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...