Langsung ke konten utama

Pertemuan yang Melekat di Hati Meski Singkat

Apakah kamu mempercayai bahwa first impression atau kesan pertama akan memberikan pengaruh yang besar terhadap perasaan yang tumbuh dari tiap orang yang saling bertemu dan berinteraksi? Jika iya, maka biasanya orang yang mempercayai hal itu akan berusaha untuk menjadikan pertemuan pertama menjadi berkesan atau bahkan terbilang istimewa. Sikap ini, menandakan bahwa orang itu bersyukur atas takdir yang dijalaninya, ia tidak ingin melewatkan dengan sia-sia setiap episode kehidupannya yang lebih berwarna dan dipertemukan dengan orang-orang baru. Namun memang, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa pertemuan pertama adalah hal yang biasa, normal pada umumnya. Mereka tak mempersiapkan secara khusus pertemuan yang sebenarnya telah ditakdirkan. Biasanya, perbedaan yang mendasar diantara keduanya adalah tentang acara yang akan dihadiri dan dengan siapa ia akan temui. Pertemuan yang berkesan dan bermakna cenderung akan mudah diingat dan memiliki tempat tersendiri dalam ruang ingatan dan rel...

MUSLIM PRODUKTIF (BAGIAN 2)

 



Lalu apa hubungannya antara produktivitas dengan Islam? Disini Mohammed Faris menyebutkan Paradigma Islam tentang produktivitas dengan membagi menjadi 3 bagian:

Produktivitas yang Dikendalikan oleh Tujuan

Tujuan adalah satu dari tiga pilar motivasi utama manusia menurut psikologi modern, dua lainnya adalah otonomi dan kemahiran. Biasanya tujuan masyarakat konsumerisme saat ini, sering kali tujuannya tidak jelas atau hanya berkaitan dengan dunia yang fana dan tidak terkait dengan hubungan kita dengan sang Pencipta.

Dalam Islam, ada dua ayat yang menjelaskan tujuan kita sebagai manusia dalam kehidupan dunia ini yang mana akan mendorong produktivitas kita sebagai manusia yang hidup di dunia. Tentu Allah mempunyai alasan dan tujuan mengapa kita diciptakan. Tentang keberadaan kita di dunia. Allah SWT berfirman :

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat : 56).

Dan yang kedua adalah

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah : 30).

2 tugas dan fungsi yang Allah berikan kepada manusia adalah Pertama, menjadi Hamba Allah dan yang kedua, menjadi wakil atau penguasa bumi secara berkesinambungan.

Produktivitas yang didorong oleh Nilai

Pencapaian produktivitas tanpa seperangkat pedoman yang jelas atau nilai-nilai etis dapat menghancurkan manusia. Nilai-nilai ini berkaitan erat dengan akhlak mulia. Seperti amanah, shidiq, ihsan, dan lainnya. Di sinilah ajaran Islam mendorong para penganutnya untuk memiliki petunjuk moral secara internal yang membimbing setiap tindakan kita. Contohnya adalah kisah Umar bin Abdul Aziz yang kedatangan tamu dari jauh, tapi tidak menggunakan lampu yang dihasilkan dari baitul maal untuk membahas hal-hal pribadi namun untuk masalah-masalah negara.

Contoh lain, seorang da’i atau mahasiswa muslim yang menjalankan suatu pekerjaan bersama namun tidak memperhatikan nilai-nilai keislaman, maka keberkahan tidak akan dapat diraih pada pekerjaan tersebut. Yang mana seringkali syaitan akan masuk merasuki pekerjaan tersebut untuk mendekati zina, kebohongan, dan tipu daya.

Kata kuncinya adalah semakin kita memenuhi nilai-nilai yang ditanamkan oleh Islam dalam kehidupan kita, maka akan semakin mendapatkan yang terbaik dalam mempertahankan harga diri mereka sebagai manusia.

Produktivitas yang dibimbing oleh Jiwa

Jiwa adalah apa yang menjadikan manusia hidup. Tanpanya, kita tidak memiliki nilai apapun. Ilmu tentang produktivitas hanya fokus pada tubuh, sekalipun jiwa merupakan pendorong lebih besar bagi produktivitas. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit." (QS. Al-Isra : 85).

Disini, produktivitas bukan hanya sekedar tentang dunia. Tapi juga akhirat. Dan disana ada ridho Allah dan juga Surga. Produktivitas yang dibimbing oleh jiwa adalah produktivitas dalam hal ruhiyah dan akhirat. Fokus tentang akhirat ini mendorong kita menuju keseimbangan antara berbagai peran yang kita mainkan. Ini bukan hanya persoalan tentang menjadi pengusaha yang menghasilkan banyak uang, bukan hanya menjadi pegawai yang berprestasi, atau pemimpin yang berhasil memimpin anak buahnya untuk produktif. Tapi ini juga tentang orangtua atau anak, suami atau istri, tetangga, warga negara, dan muslim yang produktif.

Pertannyaannya sekarang adalah jika Islam mempunyai semua nilai dan sistem yang sudah tertanam untuk meningkatkan produktivitas seperti ini,

Bagaimana mungkin umat muslim menjadi salah satu tananan masyarakat yang paling tidak produktif di dunia saat ini, padahal waktu yang Allah berikan sama-sama 24 jam dalam sehari?

Mengapa kita memiliki tingkat buta huruf tertinggi di dunia, padahal kita adalah umat yang membaca (iqra)?

Mengapa kita memiliki tingkat pengangguran tertinggi di dunia, padahal kita adalah umat yang bekerja/beramal (i’malu)?

Mengapa kita saat ini sulit berprestasi/berjaya di kancah dunia padahal kita adalah umat yang suka berpikir dan pernah menguasai 1/3 dunia dalam kurun waktu berabad-abad?

Disini, Mohammed Faris sedikit memberikan pemantik jawaban dari pertanyaan tadi. Beliau menjawab karena pemahaman yang salah yang merasuk ke dalam alam bawah sadar umat ini. Beliau menyadari hal tersebut setelah membaca buku-buku seorang pemikir Islam kontemporer bernama Dr. Ahmad Khayri Al-Omari.

Alhamdulillah sekarang mari kita berdiskusi tentang keseharian, keresahan, tentang buku ini ataupun tentang pertanyaan diatas. Semoga ulasan ini bermanfaat dan mendapat keberkahan dari Allah.


#30DWC #30DWCJilid43 #Day12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...

PROGRAM RAMADAN MULIA ISTIQAMAH BERSAMA

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, bulan yang sangat istimewa dan sangat agung, dimana karunia serta ampunan Allah dilimpahkan tanpa batas. Pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Amal kebaikan terasa sangat mudah dilakukan, program yang menawarkan kebermanfaatan terbentang luas agar saling meninggikan derajat bersama-sama. Selain itu, doa-doa diijabah dengan mudah, sehingga banyak umat Islam saling berlomba untuk kembali kepada Allah. Ramadan adalah madrasah iman yang Allah hadirkan setiap tahun untuk membentuk pribadi umat Islam menjadi bertaqwa. Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa." (QS. Al-Baqarah: 183) Namun realitanya, semangat Ramadan ...

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...