Langsung ke konten utama

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...

FROM ZERO TO HERO (Sebuah Catatan Kecil dari Seorang Penikmat Buku Pemula)

                                 

Menurut kalian apa makna pahlawan? Dan apakah kalian mempunyai seorang pahlawan dalam hidup? Siapa dia? Ibu? Atau siapa? Hm.. satu pertanyaan lagi, apakah kalian mau menjadi seorang pahlawan?

Kalau dihitung-hitung, masing-masing kita memiliki waktu yang sama; 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam 1 pekan, dan seterusnya. Namun kata Imam Al-Ghazali, kalau orang umurnya rata-rata 60 tahun dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur, maka dalam 60 tahun ia telah tidur selama 20 tahun. Luar biasa! Apakah kita termasuk di dalamnya?

Sejarah mencatat, banyak orang besar justru lahir di tengah himpitan kesulitan bukan buaian kemanjaan. Mereka besar dengan mengurangi jam tidurnya, waktu bekerja, dan kesibukan duniawi untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi. Menyedikitkan tidur malam untuk bisa bangun malam. Sedikit canda untuk rasakan nikmatnya ibadah. Tak berlebihan dalam bergaul ‘tuk’ rasakan lezatnya iman. Menahan diri dari maksiat biar tubuh tetap sehat.

Kita akui, kita orang biasa. Banyak keterbatasan, kekurangan, kelemahan, kegagalan, kemalasan dan lainnya. itu bukan masalah. Bagaimana di tengah keterbatasan itu kita dahsyatkan diri agar lahir prestasi tinggi. Itulah kepahlawanan sejati. From zero to hero!

Dalam sebuah buku karya Solikhin Abu Izzudin yang berjudul Zero to Hero | Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa, ada beberapa catatan kecil yang dibuat oleh seorang penikmat buku pemula.

Setidaknya ada 4 point yang menjadi catatan. Namun catatan ini tidak dapat mewakili keseluruhan isi buku yang sangat menggugah dan luar biasa hebatnya ini. Karena buku ini, berisi tentang pesan-pesan dakwah yang banyak, kisah-kisah inspirasi yang hebat, penggalian khazanah yang terpendam, motivasi-motivasi yang besar, serta setiap kata yang tertulis dari hati dan disuguhkan menjadi sebuah ‘kekuatan dahsyat’ untuk menggugah dan mengubah diri menjadi pribadi luarbiasa.


1.       Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa

Setiap dari kita adalah makhluk Allah yang berasal dari keturunan Nabi Adam A.S. dan Siti Hawa. Kita adalah umatnya Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam. Dan kita dibekali oleh Allah dengan hati, akal, dan jasad. Alhamdulillah semua lengkap. Namun apa yang membedakan diri kita dengan para orang-orang hebat yang mendunia? Apa yang membedakan kita dengan para alim ulama? Apa yang membedakan kita dengan para sahabat Nabi Salallahu alaihi wasallam?

Jika dibeberkan, tentu akan banyak sekali perbedaannya. Setiap diri kita memiliki banyak kekurangan. Sehingga merasa tak pantaslah disandingkan dengan orang-orang luar biasa tersebut. Namun, apakah kekurangan yang ada pada diri kita lantas membuat kita putus asa dan menjauh dari rahmat Allah? Pahamilah bahwa rahmat Allah begitu luas. Masalahnya, kita ingin menyerah atau tidak?

Catatan kecilnya adalah jangan menyerah dan jangan mudah menyerah. Belajarlah dari orang biasa yang luar biasa. Imam Malik, Imam Syafi’i, Abu Hurairah, Bilal bin Rabbah dan sahabat lainnya, dapat kita ambil hikmahnya dari kehidupan mereka. Bahkan, Rasulullah Salallahu alaihi wasallam menjadi manusia terbaik yang wajib kita contoh dan pelajari kehidupannya untuk menjadi pribadi yang luar biasa.

Kenalilah cara-cara menjadi seseorang yang luar biasa. Pahamilah bahwa setiap dari kita memiliki potensi untuk menjadi luar biasa. Jadikan kegagalan sebagai bagian dari kesuksesan, maka jangan takut gagal. Intinya adalah bangkit! Bersabarlah, tabahlah dan senantiasa bersyukurlah. Belajarlah dari setiap hal yang kita alami dalam hidup ini, pasti ada hikmah dari setiap kejadian. Peluang untuk berhasil selalu terbuka sekalipun kegagalan selalu menghantui pada tiap langkah perjuangan. Ingatlah selalu bahwa orang-orang yang luar biasa, mereka adalah orang yang senantiasa beriman dan bertaqwa pada Allah Subhanahu wa ta’ala.


2.       Menjadi Penting itu Baik, tapi menjadi baik itu lebih penting

Apakah kalian mengerti maksudnya? Tidak? Oh, tunggu sebentar! Presiden itu orang penting atau bukan? –penting- sudah pasti baik? –belum- apakah kalian ingin menjadi baik? -ya- Seperti apa definisi baik bagi kalian? Apakah jawabannya sama dengan apa yang Allah mau? Jika tidak, maka makna 'baik' versi kalian masih belum baik karena berbeda dengan versi Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Maka, pastikan sesuai dengan definisi baik menurut Allah ya. Karena ini lebih penting.

Oke, apakah sudah terjawab maksud dari menjadi penting itu baik tapi menjadi baik itu lebih penting?

Begini, setiap orang pasti mempunyai orang penting dalam hidupnya. Sebut saja, keluarga, guru, rt, rw, presiden, polisi dan lainnya. Tapi apakah mereka semua sudah pasti baik? –belum tentu- ada satu ayat Al-Qur’an yang ingin saya bagi –diluar dari buku-

“kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” 
(QS. Al-Imran: 110)

Di ayat tersebut Allah menunjuk kita, selaku umat Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam sebagai umat terbaik yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan dan beriman pada Allah.

Apakah sudah cukup jelas bahwa menjadi baik itu lebih penting? Kebaikan itu milik semua manusia yang beriman pada Allah. Dan menyampaikan kebaikan itu bukan tugas mereka yang telah baik. Tapi tugas semua mereka yang sedang dan ingin belajar menjadi baik. Bukankah umat Islam memiliki kewajiban untuk berdakwah? Maka perbaikilah diri untuk terus menjadi baik, sampaikanlah kebaikan-kebaikan agar sejalan dengan misi penciptaan. Karena menjadi penting itu baik tapi menjadi baik itu lebih penting.


3.       Setiap manusia bisa menjadi pribadi yang luar biasa

Ini tentang peluang memanfaatkan dan memaksimalkan potensi dalam diri. Akal, hati, jasad, hawa nafsu, telah Allah sempurnakan diri manusia dengan itu semua. Ketika beriman kepada Allah, manusia dapat melesat tinggi derajatnya melebihi malaikat. Namun ketika kufur, manusia dapat lebih hina dari binatang.

Kenalilah diri kita sendiri. Allah pasti telah menaruh potensi-potensi terbaik pada diri kita. Temuilah, dan optimalkan dengan baik. Jadilah hamba Allah yang luar biasa. Pribadi yang luar biasa dengan akhlak mulia. Karena setiap orang memiliki peluang untuk masuk ke dalam surga, serta tidak menutup kemungkinan masuk ke dalam neraka. Kecuali orang-orang yang Allah pilih untuk pasti masuk surga-Nya.

Ingat! Menjadi pribadi yang luar biasa adalah mereka-mereka yang mampu mengoptimalkan setiap kenikmatan atau fasilitas-fasilitas hidup mereka untuk senantiasa bersyukur, bertaubat, dan bertaqwa pada Allah. Mereka-mereka juga yang tidak melupakan orang-orang sekitarnya, berakhlak mulia terhadap sesama serta makhluk-makhluk lainnya. 

Jangan permasalahkan keterbatasan atau kekurangan yang ada pada diri kita, tapi fokuslah untuk memaksimalkan kelebihan yang kita punya untuk dapat menjadi pribadi yang luar biasa. Setiap dari kita, memiliki peluang untuk itu.


4.       Zero to Hero (Dari keterbatasan untuk sebuah konsep kepahlawanan)

Sekali lagi, tentu sebagai manusia biasa kita tidak luput dari dosa dan salah. Banyak sekali kekurangan. Tapi ingatlah! Jadikan setiap kekurangan kita sebagai kelebihan. Jangan jadikan sebagai penghalang untuk senantiasa belajar. Jadikanlah setiap proses kehidupan kita adalah proses dari pembelajaran. Jika kita belum mampu menjadi pahlawan bagi orang lain, cukup menjadi pahlawan bagi diri sendiri.

Tidak menyerah ketika sedang terpuruk, mampu bangkit saat terjatuh. Itulah saat dimana kita dapat menjadi pahlawan bagi diri sendiri.

'Zero to Hero' adalah orang yang senantiasa bersyukur pada Allah dan berhusnudzon kepada Allah. Karena orang-orang tersebut percaya bahwa setiap takdir-Nya adalah yang terbaik bagi dirinya. Ia mampu mencari sebuah kepingan-kepingan hikmah dari setiap kejadian. Sungguh luar biasa. Tidak mudah memang tapi bukan berarti mustahil.

Konsep kepahlawanan, teringat kisah Salahudin Al-Ayubi yang begitu fenomenal. Teringat kisah Muhammad Al-Fatih, yang begitu menginspirasi. Teringat kisah-kisah orang hebat lainnya. Yang mana mereka memulai kepahlawanan mereka dari diri mereka sendiri. Dari hal-hal yang kecil, sederhana, namun berorientasi kepada akhirat. Orientasi kepada Allah. Orientasi yang tidak meremehkan hal-hal kecil namun bernilai di sisi Allah.

Sekiranya ini yang dapat dibagikan kepada teman-teman semua. Mari kita bersama-sama untuk senantiasa memperbaiki diri menjadi lebih baik. Allah Maha Adil. Maha Bijaksana.

“Kesuksesan besar itu milik mereka yang menyandarkan kepada yang Maha Besar, Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Terakhir, selamat mendahsyatkan diri!

#30DWC #30DWCJilid43 #Day6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...

Perjalanan yang Membutuhkan Pilihan; Menjaga Cinta atau Mengobati Hati

"Hidup adalah soal pilihan. Manusia dituntut untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Seperti dua mata koin, kita akan mendapatkan jawaban ketika sebuah pilihan telah digulirkan. Setiap pilihan pasti memiliki dampak dan risiko. Semakin besar dampak yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang diterima. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap pilihan hidup, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apapun yang terjadi." "Setelah menjalani lika-liku kehidupan, manis-pahitnya perjalanan, kini aku mulai mengerti bahwa diri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan jalan. Bukan hanya sekedar keinginan atau hawa nafsu yang dituruti, namun juga kebutuhan dalam diri berupa keimanan dan kesehatan yang harus diprioritaskan atau diutamakan. Kini aku mulai mengerti bagaimana melakukannya karena Allah telah menunjukkan jalan terbaiknya padaku." Mari sejenak kita melakukan refleksi, mengingat dan membayangkan betapa ...

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...