Langsung ke konten utama

Pertemuan yang Melekat di Hati Meski Singkat

Apakah kamu mempercayai bahwa first impression atau kesan pertama akan memberikan pengaruh yang besar terhadap perasaan yang tumbuh dari tiap orang yang saling bertemu dan berinteraksi? Jika iya, maka biasanya orang yang mempercayai hal itu akan berusaha untuk menjadikan pertemuan pertama menjadi berkesan atau bahkan terbilang istimewa. Sikap ini, menandakan bahwa orang itu bersyukur atas takdir yang dijalaninya, ia tidak ingin melewatkan dengan sia-sia setiap episode kehidupannya yang lebih berwarna dan dipertemukan dengan orang-orang baru. Namun memang, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa pertemuan pertama adalah hal yang biasa, normal pada umumnya. Mereka tak mempersiapkan secara khusus pertemuan yang sebenarnya telah ditakdirkan. Biasanya, perbedaan yang mendasar diantara keduanya adalah tentang acara yang akan dihadiri dan dengan siapa ia akan temui. Pertemuan yang berkesan dan bermakna cenderung akan mudah diingat dan memiliki tempat tersendiri dalam ruang ingatan dan rel...

MENGAPA TULISAN INI ADA? (Bagian 2)

Ibadah-ibadah yang dilakukan tidak akan mempengaruhi eksistensi Allah sebagai Tuhan Semesta Alam. Karena Allah Berdiri Sendiri, Tidak Bergantung kepada hamba-Nya. Manusia sendiri yang akan merasakan kebaikan yang dilakukannya, manusia sendiri yang akan menerima manfaat dari amal shaleh yang dikerjakan.

Manusia sebagai hamba Allah yang menerima berbagai nikmat di bumi ini, sudah seharusnya menjaga dan memanfaatkannya dengan baik. Mampu menjadi Khalifah fil Ardh dan menjadikan Islam sebagai agama yang rahmatan lil Alamiin. Tetapi realita yang terjadi, banyak diantara manusia yang malah merusak hakikat dari kesempurnaan ciptaan, dengan melakukan penyelewengan, bahkan hingga menempatkan dirinya lebih rendah daripada hewan atau binatang.

Tugas memakmurkan muka bumi, tempat manusia berpijak adalah sejatinya untuk kebaikan manusia sendiri. Menjadi pemimpin di muka bumi ini adalah sejatinya untuk menjadi wakil Allah dalam menjalani kehidupan di bumi dengan sesama makhluk ciptaan-Nya.

Tetapi banyak manusia yang melalaikan tugasnya sebagai seorang hamba, melupakan kewajibannya untuk beribadah. Mengkufuri segala nikmat yang telah diterima, merendahkan dirinya dengan melakukan keburukan-keburukan yang terkadang bahkan lebih buruk daripada yang dilakukan oleh binatang -yang notabennya tak punya akal-, serta menjadi budak daripada makhluk lain -yang padahal sama-sama Allah ciptakan-.

Manusia telah kalah dari hawa nafsu dalam dirinya, terkekang dan tak mampu melepaskan diri dari kejahatan bisikan syaitan. Terdampar di tengah gurun luas tanpa memiliki petunjuk untuk selamat. Lebih mengikuti bisikan syaitan yang menjerumuskan. Melakukan kesenangan yang semu namun terus membuat diri haus. Fatamorgana terus dirasakan ketika bisikan syaitan terus diikuti, tak akan membuat manusia selamat selama ia terus mengikutinya. Syaitan yang telah jelas menjadi musuh yang nyata bagi manusia, seringkali malah di jadikan teman bahkan keluarga bagi manusia sendiri.

Maksiat terus saja berulang, dosa terus saja dilakukan tanpa bosan. Memang, manusia tidak luput dari salah dan dosa, tetapi ingat juga bahwa Allah Maha Rahman dan Maha Rahiim. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Penerima Taubat, Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.

Tetapi sebagian manusia malah menutup mata dari rahmat Allah yang berlimpah menyelimuti bumi ini. Merasa bahwa keputusasaan adalah satu-satunya pilihan yang harus dijalani, dan tidak mau kembali kepada Allah. Tidak menjadikan taubat sebagai sarana penyucian diri dari maksiat dan dosa yang dilakukan. Tidak mau menjadikan taubat ebagai bentuk perendahan diri dari sifat sombong terhadap Allah, Sang Maha Pencipta.

Padahal sumber kebaikan ada pada-Nya, sumber keselamatan adalah segala syariat dan petunjuk-Nya. Adalah hadir Al-Qur’an sebagai firman-Nya yang menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia. Mampu menjadi pedoman terbaik untuk dapat menjadi hamba Allah yang paripurna.

Al-Qur’an hadir di muka bumi melalui malaikat Jibril yang kemudian menjadi risalah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Pedoman terbaik yang turun kepada manusia terbaik, yang mampu memberikan tauladan terbaik dan menjadi sebaik-baik versi manusia. Melalui sunnah menjadi petunjuk berikutnya agar isi Al-Qur’an lebih mudah di amalkan oleh manusia.

Al-Qur’an dan Hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam -yang menjadi petunjuk bagi manusia agar menjadi hamba yang bertaqwa,- petunjuk untuk dapat meraih ridha-Nya. Tidak ada pilihan selain daripada keduanya untuk dapat menjadi landasan jalan ketaatan menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tulisan ini sebagai bentuk penghambaan diri dan ibadah penulis kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menjadi rasa syukur penulis terhadap segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan. Menjadi salah satu wasilah dalam melaksanakan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi yang mana wasilah tersebut juga sebagai bentuk ketaatan penulis kepada Allah, yang menjadi modal terbaik (taqwa) untuk menghadap kembali kepada Allah di akhirat nanti. Salah satu bentuk penggugur dosa yang selama ini dilakukan, dan sebagai upaya dalam mengamalkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. -Selesai-


#30DWC #30DWCJilid43 #Day2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...

PROGRAM RAMADAN MULIA ISTIQAMAH BERSAMA

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, bulan yang sangat istimewa dan sangat agung, dimana karunia serta ampunan Allah dilimpahkan tanpa batas. Pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Amal kebaikan terasa sangat mudah dilakukan, program yang menawarkan kebermanfaatan terbentang luas agar saling meninggikan derajat bersama-sama. Selain itu, doa-doa diijabah dengan mudah, sehingga banyak umat Islam saling berlomba untuk kembali kepada Allah. Ramadan adalah madrasah iman yang Allah hadirkan setiap tahun untuk membentuk pribadi umat Islam menjadi bertaqwa. Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa." (QS. Al-Baqarah: 183) Namun realitanya, semangat Ramadan ...

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...