Langsung ke konten utama

Menguatkan Ukhuwah Islamiyah di Tengah Realitas Dunia Islam Hari Ini

Sesungguhnya Islam itu mempunyai kaidah-kaidah (sistem) pendidikan yang istimewa yang berdiri tegak di atas dasar-dasar kejiwaan yang kokoh pada setiap jiwa para pemeluknya. Sistem ini adalah sistem pendidikan yang kekal, dimana tidak akan sempurna upaya pembentukan kepribadian yang islamis kecuali dengan merealisasikan konsep tersebut dengan menanamkan akar-akar tersebut dalam jiwa setiap individu maupun masyarakat, dan dengan membangun masyarakat Islam atas dasar saling tolong menolong yang menguntungkan dimana diantaranya terdapat ikatan yang kokoh, etika yang tinggi, serta rasa kasih sayang. Ukhuwah Islamiyah bukan hanya konsep spiritual atau teori dalam buku-buku dakwah. Ia adalah kekuatan peradaban yang dahulu mampu menyatukan umat Islam dalam satu barisan. Namun jika kita melihat realitas dunia Islam saat ini, khususnya di kawasan Timur Tengah, kita menyaksikan bagaimana ukhuwah sering kali melemah akibat konflik, perpecahan, dan kepentingan politik. Padahal Allah telah menging...

MENGAPA AKU HARUS SAKIT HATI TERLEBIH DAHULU?

Rasa sakit memberi kita kesempatan untuk sembuh dari penyakit sebagaimana fungsi obat. Rasa sakit juga akan memberi kekuatan bagi hati yang sedang lemah menerima kenyataan.

Rasa sakit adalah bentuk lain dari kebahagiaan sebagaimana ujian bagi orang beriman.

Allah memberi kita rasa sakit hati, pasti karena Allah tahu bahwa kita mampu melaluinya dan sakit itu adalah bentuk lain dari rasa cinta Allah kepada hamba-Nya.

Jika kita mencintai seseorang melebihi cinta kita kepada Allah, mungkin saja Allah memberi kita rasa sakit sebagai peringatan, bahwa Allah cemburu karena kita menyandarkan hati kepada selain-Nya.

Petiklah hikmah di balik rasa sakit dan temukan manfaat besar di dalamnya dengan sabar dan berprasangka baik.

Mengapa aku harus sakit hati terlebih dahulu? Simak selengkapnya ya:

  • Karena Allah ingin Melembutkan Hati Kita

Bisa jadi hati kita begitu keras menentang syariat Allah, begitu angkuh karena berlaku dzalim terhadap orang lain, maka dengan sakit hati, kita sedang dipaksa untuk melembutkan hati.

Dengan hati yang lembut, kita akan lebih peka terhadap diri dan lingkungan, lebih bijaksana menyikapi persoalan, dan lebih disiplin dalam menjaga hati.

Hal-hal yang membuat hati keras, harus dijauhi, karena itu adalah penyakit yang akan mengotori dan merusak hati.

Dalam kitab Nashaihul 'Ibad karya Ibnu Hajar Al Asqolani disebutkan bahwa Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Rusaknya hati itu disebabkan oleh enam hal; sengaja berbuat dosa dengan harapan kelak tobatnya diterima, mempunyai ilmu, tapi tidak mengamalkannya, beramal tapi tidak ikhlas, memakan rezeki dari Allah SWT, tapi tidak bersyukur, tidak ridha dengan pemberian Allah SWT, dan menguburkan jenazah, tapi tidak mengambil pelajaran darinya.”

  • Karena Allah ingin Mengajarkan Kita Bahwa Jalan yang Disyariatkan-Nya adalah Jalan Terbaik
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, yang tampak maupun yang tersembunyi. Masa depan atau masa lalu, dunia dan akhirat, karena Allah lah yang membuat skenarionya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Dengan sakit hati, kita memetik hikmah dari setiap kejadian yang terjadi, mengetahui pesan tersirat yang Allah kirimkan pada kita, dan kita bisa memperbaiki jalan yang sedang dilalui menuju jalan yang penuh kebaikan.

Sebenarnya tidak semua rasa sakit perlu kita coba agar kita lebih berhati-hati. Sama seperti keburukan yang tidak perlu kita coba semuanya agar kita menjadi orang yang baik. Cukup dengan melakukan pencegahan. Petunjuknya sudah ada di dalam Islam, maka belajarlah Islam dengan baik dan benar.

Ibaratnya Allah itu sudah memberi kita peta yang sesuai dengan kebutuhan kita, jangan malah kita mengabaikan peta tersebut dan mencari jalan sendiri.

Dan dengan rasa sakit itu, Allah ingin memberi tahu kita, bahwa pilihan-Nya adalah yang terbaik.

  • Memberikan arti bahwa hanya Allah-lah Satu-Satunya Dzat yang Maha Baik dengan Kita
Kasih sayang Allah, cinta-Nya, kebaikan-Nya, selalu tercurah limpahkan kepada kita selaku hamba-Nya, tetapi sayangnya, kita kadang tidak membalas cinta-Nya Allah, kadang kita abai terhadap kehadiran-Nya. Naudzubillah.

Bagaimana mungkin kita bisa merasakan kebaikan sedangkan kita tidak mendekati Dzat yang memiliki kebaikan tersebut? Jika kita haus, gimana kita bisa melepas dahaga kalau tidak meminum air? Sebelum meminum air, kita pasti mendekati sumber air tersebut kan?

Rasa suka, cinta, sakit hati, akan senantiasa berulang kita rasakan dalam kehidupan ini, baik yang sudah menikah maupun yang belum. Tetapi yang membedakannya adalah perihal keberkahan, ganjaran pahala, dan ridha-Nya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).

“Karena Allah ingin membuat diri kita menjadi lebih baik lagi kedepannya makanya ia memberi kita sakit hati. Petiklah hikmah di balik rasa sakit itu dan ambillah manfaat yang besar dari sakit hati itu dengan kesabaran dan prasangka yang baik."


#30DWC #30DWCJilid43 #Day28

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan yang Membutuhkan Pilihan; Menjaga Cinta atau Mengobati Hati

"Hidup adalah soal pilihan. Manusia dituntut untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Seperti dua mata koin, kita akan mendapatkan jawaban ketika sebuah pilihan telah digulirkan. Setiap pilihan pasti memiliki dampak dan risiko. Semakin besar dampak yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang diterima. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap pilihan hidup, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apapun yang terjadi." "Setelah menjalani lika-liku kehidupan, manis-pahitnya perjalanan, kini aku mulai mengerti bahwa diri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan jalan. Bukan hanya sekedar keinginan atau hawa nafsu yang dituruti, namun juga kebutuhan dalam diri berupa keimanan dan kesehatan yang harus diprioritaskan atau diutamakan. Kini aku mulai mengerti bagaimana melakukannya karena Allah telah menunjukkan jalan terbaiknya padaku." Mari sejenak kita melakukan refleksi, mengingat dan membayangkan betapa ...

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...