Langsung ke konten utama

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...

MENGAPA TULISAN INI ADA? (Bagian 1)

Ketika bertanya mengapa tulisan ini ada? jawaban sesungguhnya itu sederhana, tulisan ini ada karena Allah telah menakdirkannya ada.

Tulisan yang saat ini Anda lihat adalah bagian dari skenario yang telah Allah buat dan tersimpan di Lauhul Mahfuz. Bukan karena kemampuan yang penulis miliki. Disini, peran penulis hanya merealisasikan ketetapan yang telah Allah berikan kepada penulis. Tidak ada satu kekuatan pun di muka bumi ini yang mampu merealisasikannya kecuali kekuatan itu bersumber dari Allah dan melalui kehendak-Nya.

Perealisasian ini menjadi karunia dari Allah kepada penulis. Tugas penulis hanya berusaha sebaik mungkin menjadi hamba terbaik. Tugas yang diberikan tak terkecuali adalah sebagai bentuk penghambaan penulis kepada Allah yang Maha Esa. Tugas untuk beribadah kepada Allah, hanya untuk Allah. Tugas ini menjadi sangat spesial jika mampu didalami maknanya, Allah sebagai Sang Pencipta memberikan tugas kepada manusia untuk beribadah kepada-Nya. Disertai bekal terbaik berupa fisik tubuh, akal dan ruh sebagai fasilitas-fasilitas penunjang kemudahan tugas.

Bentuk fisik yang sempurna, limpahan karunia di muka bumi yang mampu dimanfaatkan, akal yang sehat untuk menentukan pilihan, hati yang suci sebagai pengontrol diri, dan agama yang sempurna untuk menjadi landasan kehidupan di dunia. Semua rahmat, nikmat, dan karunia yang telah Allah berikan sebagai modal terbaik bagi manusia untuk menjalankan tugasnya. Semoga kelak, kita dapat menjadi hamba-Nya yang paripurna.

Allah telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas kepada manusia agar bagaimana tugas yang diterimanya itu terasa ringan (meski setiap ujian memiliki kadarnya tersendiri). Karena sejatinya, tidak mungkin Zat yang menciptakan manusia mendzalimi ciptaan-Nya. Tidak mungkin Dia memberikan ujian kepada seorang hamba melebihi kemampuan yang dimiliki oleh hambanya. Dia Maha Mengetahui kadar kemampuan hamba-Nya. Ditambah, Allah juga telah memberikan fasilitas atau nikmat yang sangat banyak dan mampu untuk dimanfaatkan oleh umat manusia.

Nikmat-nikmat yang Allah berikan tidak pernah terhitung jumlahnya. Sejak pertama kali manusia lahir hingga waktunya pergi meninggalkan pernak-pernik kehidupan dunia. Manusia tidak akan pernah mampu membalas budi anugerah yang telah Allah berikan, bahkan penyelesaian tugas yang diberikan kepada manusia, bukanlah untuk Allah. Tetapi untuk kebaikan diri manusia sendiri. Ya, untuk kepantasan dan kelayakan diri atas status kehambaan yang diterima oleh manusia. bersambung...


#30DWC #30DWCJilid43 #Day1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...

Perjalanan yang Membutuhkan Pilihan; Menjaga Cinta atau Mengobati Hati

"Hidup adalah soal pilihan. Manusia dituntut untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Seperti dua mata koin, kita akan mendapatkan jawaban ketika sebuah pilihan telah digulirkan. Setiap pilihan pasti memiliki dampak dan risiko. Semakin besar dampak yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang diterima. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap pilihan hidup, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apapun yang terjadi." "Setelah menjalani lika-liku kehidupan, manis-pahitnya perjalanan, kini aku mulai mengerti bahwa diri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan jalan. Bukan hanya sekedar keinginan atau hawa nafsu yang dituruti, namun juga kebutuhan dalam diri berupa keimanan dan kesehatan yang harus diprioritaskan atau diutamakan. Kini aku mulai mengerti bagaimana melakukannya karena Allah telah menunjukkan jalan terbaiknya padaku." Mari sejenak kita melakukan refleksi, mengingat dan membayangkan betapa ...

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...