Langsung ke konten utama

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...

INGATLAH TENTANG HAL INI … (Bagian 2)

Penciptaan manusia pertama kali dari tanah, menjadi Kuasa Allah dalam menciptakan makhluk-Nya. Setiap manusia secara berkesinambungan lahir dari rahim seorang ibu. Allah memberikan fasilitas sempurna kepada manusia untuk dapat menjalani kehidupan di dunia. Fisik, nafsu, akal, dan ruh menjadi komposisi terbaik bagi makhluk-Nya. Manusia sebagai makhluk yang telah Allah ciptakan di muka bumi ini memiliki akal yang berguna untuk berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia memiliki pilihan untuk dapat taat kepada Allah atau maksiat kepada Allah. Taat yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah dan maksiat yang akan membuat jauh dirinya dari Allah.

Manusia akan berpikir tentang bagaimana ia harus hidup di dunia. Bagaimana ia harus mampu bertahan di tengah kuatnya godaan syaitan. Bagaimana ia harus membuktikan diri pada Sang Pencipta tentang apa yang telah Dia amanahkan terhadapnya. Menepati janjinya kepada Sang Pencipta ketika ia masih dalam rupa ruh. Mengumpulkan bekal sebaik-baik dan sebanyak-banyaknya untuk kembali menghadap Sang Pencipta.

Dengan menjadi makhluk yang spesial, manusia memiliki esensi penciptaan yaitu untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi. Dengan akal yang Allah berikan, manusia terus memperbarui dirinya dengan keilmuan. Sebagai pendamping sempurna keimanan. Dari perpaduan ilmu dan iman maka lahirlah taqwa sebagai bekal terbaik menghadap kembali Sang Pencipta. Dengan ilmu dan iman, manusia memainkan skenario yang telah Allah buat.

Manusia yang beriman selalu percaya bahwa skenario Allah adalah yang terbaik dan berhusnudzan kepada Allah -jika merasa bahwa hal yang buruk terjadi menimpanya.- Bahwa di balik hal buruk itu, terdapat hikmah yang dapat dipetik sebagai hadiah terbaik untuk dapat menjadi pelajaran di kehidupan berikutnya. Karena hari-hari ke depan adalah milik Allah, manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun akan masa depan. Tetapi dengan akal, Allah berikan kesempatan kepada manusia untuk dapat memperkirakan masa depan, untuk dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Inilah manusia yang beriman. Dalam dirinya selalu ada kebaikan. Bersabar dan bersyukur menjadi kekuatan dalam menapaki tiap jalan kehidupan. Daripada memilih keburukan, ia akan lebih memilih kebaikan. Inilah orang yang beriman, senantiasa berusaha menyikapi takdir Allah yang dianggapnya buruk sebagai bahan evaluasi diri, bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa, tidak membuatnya menyombongkan diri di hadapan-Nya, bahkan di alam semesta, manusia sangat kecil jika dibandingkan. Allah yang Maha Berkehendak dan Maha Adil. Memberi pilihan kepada hamba-Nya untuk menjalankan ketetapan-Nya menjadi sebuah takdir.


#30DWC #30DWCJilid43 #Day4

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Pembaruan Dakwah Kampus; Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna

Secara etimologis Transformasi adalah Perubahan Rupa (betuk, sifat, fungsi dsb). Transformasi secara umum menurut kamus (The New Grolier Webster Internasional dictionary of English Language), menjadi bentuk yang berbeda namun mempunyai nilai-nilai yang sama, perubahan dari satu bentuk atau ungkapan menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti atau ungkapan yang sama mulai dari struktur permukaan dan fungsi. Bisa kita saksikan dalam sejarah bahwa Islam adalah agama, nilai dan ajaran yang transformatif. Merubah tatanan hidup manusia dari keburukan yang berbagai macam rupa menjadi kebaikan-kebaikan yang penuh kemuliaan. Sedangkan permbaruan merupakan proses yang senantiasa dijalankan oleh alam semesta atau sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman. Kemudian dijelaskan tentang pelaku pembaharuan. Diceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para sahabat. Kesimpulannya terdapat dalam surah Ar-Ra’du: 11 bahwa sebuah pembaruan tidak akan pernah tercapai manakala kita belum berhasil me...

Perjalanan yang Membutuhkan Pilihan; Menjaga Cinta atau Mengobati Hati

"Hidup adalah soal pilihan. Manusia dituntut untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Seperti dua mata koin, kita akan mendapatkan jawaban ketika sebuah pilihan telah digulirkan. Setiap pilihan pasti memiliki dampak dan risiko. Semakin besar dampak yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang diterima. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap pilihan hidup, karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apapun yang terjadi." "Setelah menjalani lika-liku kehidupan, manis-pahitnya perjalanan, kini aku mulai mengerti bahwa diri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan jalan. Bukan hanya sekedar keinginan atau hawa nafsu yang dituruti, namun juga kebutuhan dalam diri berupa keimanan dan kesehatan yang harus diprioritaskan atau diutamakan. Kini aku mulai mengerti bagaimana melakukannya karena Allah telah menunjukkan jalan terbaiknya padaku." Mari sejenak kita melakukan refleksi, mengingat dan membayangkan betapa ...

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH

1️⃣ Menerima dengan Ridha dan Menjalani dengan Ikhlas Ridha adalah lapangnya hati dalam menerima ketetapan Allah, baik yang terasa menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ridha bukan berarti tidak merasa sedih, tetapi tidak memprotes keputusan Allah. Ridha berarti hati tidak memberontak atas apa yang Allah tetapkan. Sedangkan ikhlas adalah menjalani takdir tersebut semata-mata karena Allah, tanpa keluh kesah yang berlebihan dan tanpa menyalahkan keadaan. Ikhlas berarti tetap melangkah tanpa mengeluh, meski jalan terasa berat. Karena ketenangan lahir dari hati yang menerima keputusan-Nya. Allah ﷻ berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11) Hati yang ridha dan ikhlas akan Allah bimbing untuk tetap tenang, meski ujian datang silih berga...